ri_sugarcane_720X479Distrik Mareeba, Queensland merupakan salah satu sentra pertanian tebu di Australia. Rata-rata petani tebu di distrik tersebut memiliki lahan antara 10 sd 25 hektar. Hasil panen tebu rata-rata petani setempat 180 sd 200 ton per hektar dengan kadar rendemen rata-rata 10% sd 12% dan masa tanam antara 12 sd 14 bulan. Fakta tersebut menjadi menarik karena Mareeba terletak dibagian utara Queensland yang terkenal dengan terbatasnya sumber air dan curah hujan yang rendah. Setiap tahunnya rata-rata musim hujan hanya berlangsung selama 65 hari.

Dengan kondisi alam tersebut, air merupakan sesuatu yang sangat berharga. Oleh karenanya untuk efisiensi penggunaan air sebagian besar petani tebu di Mareeba menggunakan teknologi Irigasi Tetes. Manfaat lainnya dari penggunaan irigasi tetes dalam penghematan pupuk hingga 50% jika dibandingkan dengan metode irigasi lainnya.

Para petani tebu di Mareeba umum menggunakan cara Irigasi Tetes Tertanam (Subsurface Drip Irrigation). Menurut mereka dengan cara tersebut tata kelola air dan pemupukan menjadi lebih teratur. Selain itu irigasi tetes tertanam manghasilan pasokan nutrisi yang disalurkan bisa langsung mengarah pada akar tanaman dan meminimalkan penguapan. Kondisi tersebut sangat bermanfaat bagi tanaman. Disamping itu, teknologi irigasi tetes mendistribusikan asupan nutrisi secara merata menghasilkan keseragaman pertumbuhan tanaman. Imbal baliknya adalah pertumbuhan yang sehat dan lebih baik.

ri_sugarcane2_720X479Jika dibandingkan dengan hasil panen tebu di Indonesia dengan rata-rata 80 ton per hektar, dengan kadar rendemen rata-rata 8% dan masa tanam 10 bulan, sudah selayaknya kiat petani di Australia patut untuk dicontoh. Meskipun negeri kita terkenal subur makmur dengan sumber air cukup banyak, sudah saatnya kita mencoba untuk memanfaatkan teknologi irigasi tetes. Jika diterapkan dengan pola tanam yang lebih baik, teknologi irigasi tetes cukup menantang untuk dicoba untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Irigasi Tetes